Perkosaan di Indonesia jadi “guyonan” seorang calon hakim Agung

palu

 

Jakarta – Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), menyesalkan pernyataan calon hakim Agung Muhammad Daming Sanusi yang menyatakan pemerkosa dan korban pemerkosaan sama-sama menikmati. Anggota Badan pengurus YLBHI Ridwan Bakar, menilai pernyataan Damin langgar kode etik hakim.

“Apa yang dilakukan oleh Muhamad Daming Sanusi adalah pelanggaran kode etik sebagaimana termuat dalam Keputusan Bersama Ketua Mahkamah Agung dan Ketua Komisi Yudisial No. 047/KMA/SKB/IV/2009 No. 02/SKB/P.KY/IV/2009 Tentang Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim. Disebutkan dalam angka 3.1 (1) Hakim wajib menghindari tindakan tercela,” kata anggota Badan Pengurus Yayasan LBH Indonesia, Ridwan Bakar, S.H. dalam rilis yang diterima detikcom, Selasa (15/1/2013).

Menurutnya, selain itu disebutkan juga dalam Angka 7.1 bahwa hakim harus menjaga kewibaan serta martabat lembaga peradilan dan profesi baik di dalam maupun diluar pengadilan. Dengan aturan ini hakim seharusnya bersikap hati-hati dan senantiasa dapat menjaga kehormatan dan martabat.

“Merujuk dari kode etik dan pedoman perilaku sebagaimana diatas, Komisi Yudisial sudah seharusnya memeriksa Muhammad Daming Sanusi dan segera memberikan sanksi pemberhentian sebagai hakim dan segera membatalkan pengajuan sebagai calon hakim agung karena telah melakukan pelanggaran kode etik dan pedoman perilaku hakim,” terangnya.

“Juga sebagaimana kewenangan DPR RI terkait dengan Pengangkatan Hakim Agung agar DPR RI tidak memberikan persetujuan terhadap Hakim Muhamad Daming Sanusi untuk ditetapkan menjadi Hakim Agung,” lanjut Ridwan.

Ia menuturkan, meskipun dengan alasan candaan, ucapan ini menjadikan kepercayaan publik (terutama korban pemerkosaan) terhadap pengadilan terkikis, dan akhirnya menambah deretan panjang ketidakpercayaan terhadap lembaga peradilan.

“Sebagai seorang hakim yang merupakan figur sentral dalam peradilan, seharusnya Muhammad Daming Sanusi berkewajiban menunjukan sikap yang memelihara integritas, kecerdasan moral, maupun perilaku, baik dalam menjalankan tugas yudisial maupun dalam keseharian,” kritiknya.

Seperti diketahui, pernyataan serius mengenai kejahatan pemerkosaan diajukan oleh anggota Komisi III dari Fraksi PAN, Andi Azhar, kepada Daming Sunusi yang menanyakan pendapat Daming mengenai hukuman mati bagi pemerkosa. Pertanyaan terlontar dalam fit and proper test calon hakim agung di DPR.

“Yang diperkosa dengan yang memperkosa ini sama-sama menikmati. Jadi harus pikir-pikir terhadap hukuman mati,” kata Daming.

Usai fit and proper test, Daming ditanya lagi oleh wartawan atas pernyatan pemerkosa dan yang diperkosa sama-sama enak. Daming berkilah jawaban tersebut untuk mencairkan suasana.

“Saya lihat kita terlalu tegang, supaya ketegangan itu berkuranglah. Tadi kan ketawa sebentar,” jawab Daming.

(bal/rvk)

Sumber: detik.com